Batas Sasmita

Suara angin yang tertahan di pucuk pepohonan mengiringi tarian sepasang angsa di tengah telaga. Gerakan keduanya begitu anggun sehingga tak meningalkan riak pada permukaan air, yang memantulkan putih bulu mereka. 

Belum lama mewartakan ikatan kasih mereka, ketenangan air bergolak oleh kepakan sayap. Sang betina seolah ditarik oleh sesuatu dari bawah air, sebelah sayapnya berusaha menggapai udara. Angsa jantan tanggap melengkungkan kepala, mencoba menggapai sejumput bulu sang betina. Tak sampai, ia kemudian menunggingkan tubuhnya ke dalam telaga, menyisakan ekor dan pantatnya di atas permukanan air. Keduanya saling ingin meraih, sang betina membentangkan sayapnya dan sang jantan meluruskan lehernya. hingga akhrinya berujung pada keselamatan sang betina.

Di bawah cahaya bulan purnama yang semakin meninggi, tarian perayaan mereka dilanjutkan. Berhadap-hadapan, sang jantan mulai memaju-mundurkan kepala, diikuti oleh sang betina. Bersama-sama mereka membusungkan dada hingga nampak seolah berdiri, lalu mengepak-ngepakkan sayap sambil berdesis merayakan kuatnya ikatan mereka. Tarian mereka diakhiri dengan ritual saling melingkarkan leher sebagai tanda kasih yang setia, dan ditutup oleh gemuruh tepuk tangan, pujian hingga siulan yang membisukan derap angin. 

Para angsa yang menjelma menjadi manusia berdiri menyambut kedatangan sepasang kekasih itu keluar dari air. Sesampainya mereka di ambang telaga, saat air masih merendam mata kaki, keduanya berubah wujud pula menjadi manusia. 

"Kemala, lekuk lehermu tadi begitu indah, gemulai meliuk menantang arus. Dadamu membusung sintal seolah diciptakan untuk memuaskan mata memandang. Bulu-bulu putih lembutmu membuat siapapun ingin meraba kehangatannya."

"Terima kasih atas pujiannya."

Menaruh tangannya pada pinggang Kemala, sang pria angsa memandang wajah Kemala bak melihat cermin sebab wajah sepasang kekasih itu sama-sama berlapis topeng porselin. Tatapan itu dibalas dengan senyuman dari balik topeng, juga tatapan mesra melalui lubang mata topeng Kemala.

Setelah berjalan menapaki butiran pasir di tepian air, mereka akhirnya mencapai tanah berumput. Saat berjalan meenghampiri tiang obor, bayangan pria itu memanjang tak alami, siapa sangka bayangan itu bergerak senyap-senyap mencuri selemebar bulu angsa dari cincin lengan Kemala. Cincin lengan dengan tumpukan bulu yang menggantung-berayun itu adalah lambang kehormatan dan harga diri bagi para angsa. Dan milik Kemala kini tinggal dua helai setelah dikhianati, setelah berkali-kali mempercayai orang yang salah.

Di tengah kesibukan Kemala menerima ranting, rumput, lumut dan dedaunan dari para angsa yang mengaguminya, perhatian Kemala masih tertuju pada angsa hitam yang berdiam, bertapa di sudut telaga. Ia sampai tak mendengar pujian para angsa yang mengharapkan bimbingannya dalam mencinta, untuk tetap berjuang untuk cinta setelah berkali-kali dikhianati. Kemala menatap angsa hitam itu dengan bibir mengatup rapat sementara hatinya berteriak memertanyakan kediamannya. 

"Ia sedikitpun tak melirik kebahagiaannku. Mengapa ia berdiam seolah yang kupunya tidak ada artinya? Seperti tidak menganggapku ada," begitu kata hati Kemala.

"Jiwanya yang senyap itu mana tahu tentang cinta sejati, mana tahu rasanya dicintai, diperjuangkan dan diingini sampai gila? Hidupnya terlalu datar hanya karena takut terluka. Sehingga menghibur diri dalam kepalsuan dan menyebutnya kedamaian. Kasihan sekali dia, mungkin angsa hitam itu sadar diri, ia takkan bisa mendapatkan pasangan seindah yang kupunya. dirinya pastilah takut ditolak sebab kelegaman hitamnya," gumamnya di ujung bibir.

Malam. kala bulan di tengah-tengah langit, saat jelmaan para angsa pulang ke rumah masing-masing, Sendikala, sang angsa hitam mengubah wujudnya menjadi wanita bergaun hitam kelam. Wajah Sendikala tertutupi kain hitam yang sisinya menggantung, tersulam pada sekeliling Caping Kalo yang ia kenakan. Permukaan air yang awalnya setinggi betis kian meninggi saat ia berjalan ke tengah telaga, dirinya kini terendam air setinggi panggul. Dilemparnya kain kaca organdi hitam dengan kilau keemasan itu ke atas caping, agar terhindar dari air sehingga memperlihatkan wajahnya. 

Sendikala kemudian menunduk meraba bebatuan telaga dan mengambil batu yang terikat oleh pita merah yang koyak ujungnya. Ia menggeleng melihat kata 'bukti cinta' terukir pada batu itu, sama seperti keenam batu yang ia temukan di hari-hari lain. Sang angsa hitam kemudian mengembalikan batu itu ke dasar air telaga dan menurunkan kembali kain penutup wajahnya.

Berjalan pulang, sebelah tangannya menjepit merapatkan kain kaca organdi, menjaganya dari tiupan angin malam. ia menundukkan wajahnya di balik kain saat melewati pria jelmaan angsa yang sedang menikmati malam..

"Jalanmu yang berlenggang itu sungguh membuat jantung pria manapun berdegup kencang, Sendikala. Beruntung sekali lelaki yang kelak menikmati keindahan raga molekmu."

Sendikala mengerling tajam dari balik kainnya sampai seakan-akan membekukan darah, sehingga senyuman pria itu hilang seketika. Sang angsa hitam menyapu kain penutup itu dengan jemarinya, menciptakan gelombang, membuat tubuhnya tak terlihat di mata si laki-laki. Hanya tersisa bayang-bayang dirinya diatas tanah, membuat pria itu lari terbirit-birit.

Sementara itu di antara pepohonan, bersembunyilah seorang pria bertopeng jelmaan angsa berbulu abu bernama Aditya. Berkat dirinya pria angsa campuran tadi tersungkur lumpur, setelah tersandung kaki Aditya yang sengaja menunggunya. Menyadari perjalanan pulang Sendikala masih jauh, Aditya mengikat bayangan dirinya pada batang pohon trembesi dengan tali rami lalu mengikuti kemana perginya Sendikala dari balik pepohonan. 

Selama perjalanan Aditya melihat beberapa pria yang mencoba mendekati Sendikala dan mereka semua pulang dengan tangan hampa. Seorang pria kehilangan kostumnya saat berada tujuh langkah dari Sendikala, ia kembali menjadi angsa biasa. Lalu seorang pria kehilangan topengnya ketika berjarak lima langkah dari Sendikala. Pria itu kabur ketakutan melihat pantulan wajah aslinya muncul pada kain penutup wajah Sendikala. Seorang lagi terdiam membeku, harga dirinya seolah teriup angin saat mulut manisnya berkhianat dan tunduk pada Sendikala saat berjarak satu hasta darinya.

Sampai di pekarangan rumah, Sendikala berhenti melangkah dan menengok ke belakang lewat pundaknya "Terima kasih telah mengantar."

Mendengar hal itu Aditya melongokkan kepalanya dari balik pohon trembesi, "terima kasih kembali," jawabnya pelan. Senyumnya mengembang mengetahui Sendikala melihat sekaligus menghargai niat baiknya.

"Niat apa yang membawamu mengikutiku?" Sendikala meluruskan kepala, tanpa mengubah arah tubuhnya.

Aditya meluruskan badan, tangannya masih menyentuh pohon, "Aku ingin memastikanmu pulang dengan selamat. Aku melihat bagaimana kau menjaga dirimu, aku ingin menggantikanmu menjaga. Bukan karena aku menganggapmu lemah, tapi aku ingin menjagamu selayaknya sesuatu yang berharga."

"Lalu mengapa kau menyembunyikan diri? Tidak baik diam-diam mengikuti seseorang pulang ke rumahnya. Dan kemana perginya bayanganmu?"

"Bayanganku... Aku mengikatnya pada batang pohon. Aku belum berdamai dengan bayanganku, aku tidak ingin bayanganku sampai menyentuhmu. Selain itu, aku juga belum sanggup melepas topengku ini. Aku tidak ingin terburu-buru. Jangan sampai aku salah ucap atau salah langkah sehingga membuatmu menghilang dari pandanganku, Sendikala. Maafkan aku.

"Petang tadi, aku melihat tarian perayaan sepasang angsa di telaga, kekasih Kemala, dia membuktikan cintanya pada Kemala, dia rela hampir tenggelam untuknya. Aku... "

"Aku tidak akan ada jikau kau hanya ingin membuktikan sesuatu...padaku atau pada orang lain. Aku hanya ada jika kau datang dengan ketulusan dan kejujuran. Cinta tak berbatas pada pembuktian ataupun pengorbanan, cukup tunjukkan dirimu yang sejati," tukas Sendikala.

Tangan Sendikala menyusup keluar, bergerak lembut melewati celah kain penutup wajahnya, Ia hanya mengeluarkan tangannya sebatas pergelangan, menggenggam sebuah vial berisi minyak dan sehelai bulu angsa hitam yang ia cabut dari cincin lengannya. Uluran tangan Sendikala dijawab oleh akar gantung dengan meraih dan melilit vial serta bulu itu, yang kemudian mengantarkanya pada Aditya.

"Berdamailah dengan bayangmu, pakailah minyak dan bulu itu agar berkurang rasa sakitmu saat melepas topengmu. Agar kau kembali menjadi dirimu yang sejati. Namun jangan terburu-buru, jangan kasar memaksa, topeng dan bayangmulah yang selama ini telah melindungimu saat menghadapi dunia."

Aditnya memandangi vial minyak dan bulu itu di tangannya dengan separuh melamun, "Terima kasih. Aku akan melakukannya untukmu," Aditya menegakkan kepala, kembali memandang ke arah Sendikala

"Jangan untukku, untukmu sendiri. Berhati-hatilah di jalan, Aditya. Aku permisi."

"Terima kasih."

"Sama-sama."


***


Malam berganti hingga datang masa bulan mati, tak menampakkan wujudnya, Kemala melangkah memasukkan kakinya ke dalam dinginnya air telaga, yang sepi tanpa bayangan bulan. Gerakan kakinya yang berjalan tergesa, menciptakan riak air yang bertubruk kasar. Kedua tangannya memukul air, seolah memecah kaca hingga berkeping.

Kemala bertekuk lutut, "Bagaimana mungkin?! Aku sendiri yang mengujinya dengan menenggelamkan diriku sendiri. Dia rela hampir tenggelam untukku," ia kembali berjalan ke sisi yang lebih dalam, "aku sudah memberikan segalanya. Berani-beraninya, makhluk rendahan itu memanfaatkan ketulusanku! Licik sekali1" 

Kemala melemparkan sebuah batu terikat pita ke dalam air sampai berdentum memuntahkan cipratan-cipratan tajam. Batu itu adalah batu yang sempat ditemukan Sendikala, batu yang yang Kemala pakai untuk menenggelamkan dirinya.

"Tidak ada laki-laki yang bisa dipercaya, mereka semua sama saja. Tapi aku membutuhkan seseorang untuk berada di sisiku agar aku tak merasa kurang dibanding angsa-angsa lain. Pengkhianatan ini... serasa dikubur hidup-hidup. Berapa kali lagi aku harus dikecewakan oleh cinta?

Angsa hitam itu... pasti menyendiri karena dirinya tidak punya hati untuk hancur. Sementara aku, aku dikutuk karena ketulusanku. Dia pasti menertawakan nasib malangku, pasti dia diam-diam iri pada kebahagiaanku, diam menyupahi hubunganku. Dasar pengecut! Aku belum kalah dari angsa lain, aku hanya terlalu suci untuk dunia kotor ini, yang penuh dengan mereka yang tidak punya hati."


TAMAT

✨ Kenalan Sama Penulis Yuk! ✨
Puspita Diansari

"Dipinjam dari karakter fiksi ciptaannya, Puspita Diasari bukanlah topeng, melainkan lorong menuju lapisan diri terdalam penulis, sekaligus simbol pergerakan sunyi untuk terus melangkah maju."


Suka dengan tulisan ini? Yuk, sapa penulis di Instagram atau dukung kreativitasnya dengan jajanin es krim via Saweria~ 🍦🌸

Komentar

Populer

Launching Fest

Elegi Yang Tersirat