Elegi Yang Tersirat

 

Seekor tupai menuruni batang pohon, membawakan surat balasan untuk Lira, seorang wanita penyair yang tinggal di dalam hutan. Mengenakan gaun putih berbahan sifon yang berlapis-lapis, wanita penyair itu menyirami bunga mawar di pekarangan. Sesekali dirinya menunduk, menyingkirkan helai kain dari wajahnya untuk mencium wangi mawar dan menyentuh lembut kelopaknya. Selembar kain itu menutupi wajah, rambut hingga setengah badannya. Ketika kembali berdiri, Lira membetulkan perhiasan kepala yang menahan sehelai kain itu.

Si tupai bernama Nou itu ragu-ragu menghampirinya, sambil mengubah wujudnya di pertengahan jalan. Nou berubah menjadi sosok laki-laki bermata bulat, dedaunan kering tersangkut pada rambut pendek bergelombangnya. 

Setelah gulungan surat berstempel kerajaan ia keluarkan dari kantong di balik jubah berbulunya, Nou menyembunyikan gulungan surat itu di belakang punggung tepat saat Lira menoleh. Menghindar dari pandangan Lira kakinya tak terasa juga mundur selangkah.

Lira mengulurkan tangan.

Nou menunduk sementara gulungan surat itu masih ada di genggaman tangannya. "Kalau nanti surat ini sampai membuatmu menangis, kau tidak bisa ya melarangku kembali mendatanginya untuk memukul kepalanya yang sekeras batu itu.

"Bagaimana bisa patung es bernyawa itu menyia-nyiakan pesan Nona seperti tidak ada harganya? Dasar. Batu kok sebadan-badan!" rautnya cemberut.

Lira menggeleng kepala lalu kembali mengulurkan tangan lebih dekat, "Sini," diambilnya gulungan surat itu dari tangan Nou, "Memangnya dia bilang apa?"

"Si Pangeran Adri itu bilang kalau dia tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu, lalu dia menaruh suratmu ke dalam laci begitu saja tanpa membukanya. Sia-sia saja Nona mengkhawatirkannya selama berminggu-minggu."

Gulungan itu dibawa Lira duduk bersimpuh diatas lempengan batu, di atas tanah, yang biasa ia gunakan untuk berpijak,

Beberapa bulan lalu, Lira sudah berniat berkirim surat pada Adri, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat gambar wajah Adri pada papan pengumuman di alun-alun waktu itu.

"Bukan dia, bukan dia yang ingin aku temui," ucapannya pada saat itu terngiang di kepala. Kala itu meski melihat wajah yang sama, Lira tak dapat mengenali jiwa Adri, seolah jiwanya tak lagi bersemayam dalam dirinya.

Tak lama, stempel lilin yang menyegel gulungan itu ia patahkan dengan jemarinya yang kotor oleh noda tinta. Di dalamnya tersemat kabar pernikahan Adri yang seketika membekukan tubuhnya. Goresan tinta emas pada kertas perkamen itu seolah melilit tangannya menjadi dingin, melilit hatinya menjadi sesak. Sekaligus memaksa cintanya yang tak sempat mekar mati dalam sunyi. Tatapan kosongnya menghanyutkan pikirannya, meskipun ada di depan mata, Lira tak lagi melihat apa yang ada dihadapannya.

Melihat Lira, Nou mendekatkan diri, "Kalau saja tidak demi menjaga kehormatanmu, Nona, sudah kupukul dia," kata Nou yang mendudukkan pantatnya di atas tanah berumput sembari melirik Lira dengan cemas.

Pikirnya sudah tersadar dari lamunan namun Lira masih berdiam, sebab kali ini ia kembali melihat Adri ada pada gambar dirinya, pada kertas perkamen itu. Meskipun jiwanya mungkin telah kembali, namun tidak binar matanya yang kini meredup. Meski tersenyum, senyumnya tersimpul demi menutupi keredupan di matanya. Jiwanya seolah sebuah lilin yang telah lama membakar dirinya sendiri demi menerangi orang lain. Kini apinya kian meredup, karena sumbunya tenggelam oleh lelehannya sendiri. Namun ia seolah masih berusaha menerangi gelapnya malam yang menuntut nyalanya, sementara angin mempermainkannya.

Duduk di samping Lira, Nou dengan asal mencabuti rumput segenggam demi segenggam, "Ternyata ada benarnya juga apa kata orang, ya, Nona? Siapapun yang pertama kali menyatakan cinta, maka dialah yang kalah," ucap Nou.

Suara Nou memudar tergantikan suara kertas perkamen yang kembali digulung oleh Lira, kemudian ia letakkan gulungan itu di sampingnya. 

Lira menegakkan kepala, "Sejak kapan cinta tentang menang dan kalah? Aku tidak sedang memintanya mencintaiku. Akulah yang mencintainya dan mengungkapkannya adalah salah satu caraku mencintai. Bukan hanya padanya, tapi itu juga caraku mencintai diriku sendiri, juga caraku menghargai dan memuliakan perasaanku.

"Lagi pula tidak ada cinta yang sia-sia, kecuali bagi mereka yang menyempitkan maknanya. Mereka yang meromantisasi kebohongan pada diri, pengorbanan dan penggantungan nilai diri pada orang lain demi merasa bernilai. Tanpa tahu kebohongan menjauhkan mereka dari diri mereka sendiri, pengorbanan membuat mereka menghilang saat mempertahankan hubungan itu sendiri. Saat seseorang mengantungkan nilai diri pada orang lain, mereka justru sedang mempersempit arti cinta menjadi sekadar alat untuk menjaga kenyamanan ego semata.

"Semestinya cinta bersemayam di makam yang lebih tinggi, sebab ia seharusnya datang bersama kebebasan. Ungkapan perasaanku bukanlah permohonan untuk dicintai melainkan memberi kasih, sekaligus memberi kebebasan untuk memilih."

"Tapi tetap saja, aku tidak bisa terima perlakuannya terhadapmu," sahut Nou cemberut.

"Apa yang dikatakannya dengan bagaimana dia mengatakannya adalah dua hal yang berbeda. Kau melihat betapa tinggi tembok yang dia bangun, tapi kau tidak bertanya untuk apa tembok itu dibangun. Jika aku tidak punya kekuatan untuk melindungi nyala api dari tiupan angin yang telah meredupkanku, maka aku juga akan meminta sumbernya menjauh," 

Lira beranjak dari tempatnya, "Entah siapa yang ingin dia bohongi, aku atau dirinya sendiri."

"Tetapi, bagaimanapun juga itu adalah keputusannya jadi aku akan menghargainya," terusnya, ia perlahan berlalu.


***


Beberapa hari berselang, tepat saat bayang-bayang sore mulai memanjang, terdengar derap kaki kuda yang menyadarkan Lira dari lamunan. Ditinggalkannya pena bulu dan botol tinta yang kehabisan isi di atas meja untuk keluar rumah untuk mencari tahu.

Kedatangan Adri membawa angin yang meniup pergi kain yang menutupi kepala Lira, gerak tangan Lira tak cukup cepat menahan terbangnya kain itu sehingga perhiasan kepalanya terjatuh. Adri berjalan menghampirinya seperti satu-satunya tempat untuk pulang, bersama luka memar di dahinya, sebagian bersembunyi di sela pangkal rambutnya. Jemari Lira mengulur berniat menyentuhnya. Namun, belum sempat hangat kulitnya sampai, tanpa kata Adri lebih dulu menjatuhkan kepalanya di bahu Lira. Bahu Lira sedikit terhenyak oleh perpindahan bobot tubuh Adri padanya.

Gerakannya yang meluruh seolah menggambarkan kelegaannya saat melihat Lira, juga kelegaan yang hadir hanya saat ia membiarkan dirinya menjadi lemah, menyadari di tempat ini ia tak sendirian, ia dimengerti dan dihargai lebih dari sekedar bidak yang dituntut untuk selalu kuat. Ia dilihat sebagai dirinya sendiri. yang utuh dan berjiwa. Tepat di samping telinganya, Lira bisa mendengar napas Adri yang patah tak beratur, yang perlahan menjadi satu helaan napas panjang. Hati Lira menciut mendengarnya, menyadari betapa Adri menanggung semuanya sendirian.

Lira melirik tangan Adri yang gemetar menggenggam lapis pakaiannya, seolah ingin mengiyakan firasat Lira, bahwa dirinya sedang remuk dari dalam setelah lama terkikis. Lira mengepalkan tangan, membatalkan niatnya menyentuh Adri saat mengetahui batu permata pada cincin lengan Kerajaan yang dikenakan Adri menghitam setelah beberapa saat Adri bersamanya. Semesta seolah menahan napas, mengulur waktu untuk mereka. Sebab Adri tidak sedang memeluk, ia sedang menyandarkan jiwanya yang hampir mati pada Lira. 

"Sebenarnya ada apa?" tanya Lira.

Tepat saat Adri menegakkan kepala untuk menatap Lira, keduanya mendongak mendengar gemuruh guntur. Langit di atas mereka bergulung pekat, menutupi arah datangnya cahaya matahari. Deru angin tanpa rupa itu kian keras menghantam ranting, riuh menyerakkan dedaunan. Angin kencang dari berbagai arah melesat melintasi langit, bertabrak, mengundang badai. 

Adri menarik diri dari Lira, lalu berbalik menuju tempat dimana ia mengikat kudanya, menginggalkan Lira tanpa memberi jawaban. Adri melompat ke atas pelana kudanya, menarik tali kekang lalu memacu kudanya melesat pergi. Ketukan ringan kaki Adri mempercepat laju kudanya berlari. Ia membawa pergi angin bersama gumpalan awan pekat, mencegah datangnya badai. Mengamankan kedamaian hutan dan kuncup-kuncup mawar yang selama ini memberi Lira ketenangan.

Melihat Adri yang pergi begitu saja, si tupai melompat turun dari dahan pohon seraya berubah wujud untuk menggerutukinya. "Eh! Apa-apaan kau ini?! Jawab dulu pertanyaan Nonaku!" Nou melempar ranting ke arah perginya Adri, "Sengaja sekali ingin membuat Nonaku khawatir. Dasar patung es tidak berperasaan!" terusnya, bertolak pinggang.

"Nou, sudah," kata Lira mengingatkan, diiringi jatuhnya daun-daun dari udara, pertanda redanya angin.

Lira melihat kepergian Adri yang perlahan menghilang diantara pepohnan, "Adri, dia sedang tidak baik-baik saja. Mungkin dia kemari untuk mencari kekuatan, hanya saja dia tak ingin melibatkanku dengan apa yang sedang ia hadapi. Semoga saja kepergiannya adalah pertanda bahwa dia masih sanggup melewati apapun yang sedang dihadapinya. Itu sudah cukup melegakan buatku," berjalan menghampiri Nou, suara langkahnya mengalahkan desau angin yang memudar bersama ucapan Lira. 

Menyadari Lira menatapnya curiga, Nou menarik kepalanya ke samping, mengelak dari tangan Lira yang mengulur mengincar daun telinganya.

 "Apa? Bukan aku," kedua tangan Nou menutupi telinganya, "Mana mungkin aku betulan memukulnya. Bisa-bisa aku dipenjara."

 Lira menggeleng sembari tersenyum, tangan kanannya mengacak-acak rambut Nou, "Kau ini."


TAMAT

✨ Kenalan Sama Penulis Yuk! ✨
Puspita Diansari

"Dipinjam dari karakter fiksi ciptaannya, Puspita Diasari bukanlah topeng, melainkan lorong menuju lapisan diri terdalam penulis, sekaligus simbol pergerakan sunyi untuk terus melangkah maju."


Suka dengan tulisan ini? Yuk, sapa penulis di Instagram atau dukung kreativitasnya dengan jajanin es krim via Saweria~ 🍦🌸

Komentar

Siti Kholijah mengatakan…
Cerpen ini menghadirkan kisah yang begitu menyentuh dengan balutan bahasa yang puitis dan penuh makna. Penulis berhasil membangun emosi pembaca melalui tokoh Lira yang mencintai dengan tulus tanpa menjadikan cintanya sebagai tuntutan untuk memiliki. Dialog antara Lira dan Nou menjadi kekuatan cerita karena menghadirkan refleksi bahwa cinta sejati tidak menghilangkan harga diri, melainkan memberi kebebasan untuk memilih dan menghargai keputusan orang lain. Simbol lilin yang meredup, badai, serta mawar memperkuat suasana batin tokoh sehingga setiap adegan terasa hidup dan berkesan. Alur yang perlahan membangun konflik hingga menghadirkan pertemuan kembali antara Lira dan Adri membuat pembaca terus penasaran. Cerpen ini bukan hanya menawarkan kisah romantis, tetapi juga mengajarkan tentang keikhlasan, keberanian mengungkapkan perasaan, penghormatan terhadap diri sendiri, serta arti mencintai tanpa harus memiliki. Sebuah karya yang matang, emosional, dan meninggalkan kesan mendalam setelah selesai dibaca.”

Populer

Launching Fest