Kupas Karya - Bertumbuh


Menemui Diri Sendiri: Menyusur sisi psikologis dibalik Cerpen Bertumbuh.

Bertumbuh oleh Puspita Diansari


Beberapa minggu yang lalu, aku terdiam lama saat dihinggapi pertanyaan, "Kenapa kita seringkali menghakimi diri kita di masa lalu, seolah bukan dia yang membawa kita sampai di sini?" atau pertanyaan, "Kenapa saat kita mengerti, kita justru mempertanyakan jalan yang sama yang membuat kita mengerti di hari ini?" 

Lamunanku itulah yang akhirnya menuntunku menjalin kata menjadi sebuah cerita pendek berjudul "Bertumbuh", yang sebentar lagi bisa kalian peluk dalam buku antologi "Tales of Valeriane" bersama karya penulis lain.

***


Bersama seorang herbalis bernama Puspita, aku ingin mengajakmu berjalan menembus kabut malam, mengikuti perginya nyala serbuk sari. Berkat mekarnya bunga sedap malam, Puspita menemukan Aji yang terjebak dalam liang tanah, di kegelapan Hutan Dalam, tempat di mana sisi terdalam manusia tersembunyi. Kisah ini bukanlah sekadar kisah romansa yang patah atau gagal, melainkan sebuah kisah perjalanan psikologis seseorang untuk pulang dan memeluk dirinya sendiri. 

 

"Bagaimana bisa ia datang tepat saat aku berhenti berpura-pura kuat?" 

 

"Kenapa Aji justru memilih mengenakan topeng es ketika Puspita datang?" 

Sebagai penulis, aku tidak merancang topeng itu sebagai pernak-pernik, keberadaannya beralasan dan bertujuan. Aku ingin mengajakmu melihat bagaimana cara kita bertahan ketika terluka, sementara menolak terlihat lemah. Keputusan Aji nyatanya lebih dekat dengan keseharian kita dari yang kita bayangkan. Dari balik topeng dinginnya aku mengijinkan egonya bicara, sebagai bentuk protes sunyi sekaligus menjadi sebuah alat menguJi Puspita. 


"Kenapa Puspita tetap memilih pergi meski topeng es Aji sudah meleleh?"

Dinamika cerita ini tidak berhenti pada luka Aji semata, namun sudut pandangnya bergeser ke ranah yang lebih filosofis, tentang bagaimana Puspita menanggapi luka tersebut. 

Mungkin keputusan Puspita yang memilih melanjutkan langkahnya ketimbang menarik Aji keluar dari lubang bikin greget, karena sikapnya seolah sama dinginnya dengan Aji. Namun, sebenarnya di sinilah aku ingin menuangkan prinsip batasan emosional.  

Kita tidak bisa menyelamatkan orang lain dari Hutan Dalamnya sendiri.  

"Luka itu akan sembuh hanya jika kau sendiri yang melihat dan mengobatinya." 

Lewat keputusan Puspita aku ingin melukiskan cara mencintai dengan bijak. Puspita yang seorang herbalis meninggalkan lilin dan ramuan simplisia di bibir liang, keduanya mengisyaratkan kepercayaan Puspita pada kemampuan Aji untuk menolong dirinya sendiri. Kepercayaan itulah yang menegaskan bahwa Puspita tidak pernah benar-benar meninggalkan Aji, dalam arti mengabaikannya.  


"Kenapa Puspita selalu berjalan di bawah rintik hujan dan kenapa latar di mana Aji meringkuk di liang tanah begitu gelap?"

Jika kamu membaca cerpen ini dengan jeli, latar tempat dan benda-benda yang muncul sebenarnya adalah visualisasi dari peta alam bawah sadar kita. Aku sengaja membawa simbol-simbol alam untuk melukis pergulatan batin dan kondisi emosional mereka. Contohnya:

  • Bunga sedap malam.
Simbol dari intuisi atau panggilan jiwa, yang mengisyaratkan pada Puspita bahwa ada yang tidak selaras dan butuh perhatian mendalam. 
  • Pedang 
Merupakan perwujudan dari ego dan rasa takut yang di alami Puspita di masa lalu, Mengisyaratkan bahwa ketakutan akan terluka sering membuat kita terlalu membentengi diri. Hingga tanpa sadar mengurung diri dari cinta, bahkan sampai melukai mereka yang mencintai kita.
  • Kaca pembatas 
Merupakan manifestasi batas kemampuan kita mengubah masa lalu, ataupun sebaliknya. Ia juga merupakan batas yang memperjelas sejauh mana kita telah bertumbuh, bagaimana cara pandang kita berubah berselang waktu. 


Kisah lengkap tentang bagaimana Puspita berdamai dengan badai masa lalunya dan bagaimana nasib Aji di dalam Hutan Dalam bisa kamu baca sepenuhnya dalam Cerpen "Bertumbuh" dalam Buku Antologi Bersama "Tales Of Valeriane" 

Yuk ikuti langkah Puspita menemui masa lalunya!


Pesan di website official penerbit di sini!



 

 

 

Komentar

Populer

Launching Fest

Elegi Yang Tersirat