Postingan

PENGUMUMAN!

Merayakan Awal Perjalanan

Gambar
Berbagi Energi untuk Rumah Kreatif Baru Kami. Halo Teman-Teman Pembaca dan Sesama Pegiat Literasi! Selamat datang di Blog Puspita Diansari! Akhirnya, setelah melalui proses persiapan yang cukup panjang, blog ini resmi mengudara. Saat ini kami sedang merayakan masa launching blog ini melalui berbagai kegiatan seru, termasuk giveaway yang sedang berlangsung untuk kalian semua. Sebagai blog yang baru lahir, visi kami ke depan sangat besar: kami ingin menjadikan blog ini sebagai rumah yang nyaman untuk membaca tulisan berkualitas, sekaligus menjadi panggung apresiasi bagi para penulis tamu untuk bersinar. Namun, ada sebuah cerita yang ingin kami bagikan dari balik layar. Saat ini, seluruh operasional blog (mulai dari merapikan tampilan website, menyaring naskah yang masuk, hingga mengetik artikel) 100% masih kami lakukan secara manual lewat layar HP. Menyunting tulisan panjang dan mengelola website lewat HP tentu memiliki keterbatasan ruang dan waktu. Agar ke depannya kami bisa menyajikan ...

Kupas Karya - Bertumbuh

Gambar
Menemui Diri Sendiri: Menyusur sisi psikologis dibalik Cerpen Bertumbuh . Bertumbuh oleh Puspita Diansari Beberapa minggu yang lalu, aku terdiam lama saat dihinggapi pertanyaan, "Kenapa kita seringkali menghakimi diri kita di masa lalu, seolah bukan dia yang membawa kita sampai di sini?" atau pertanyaan, "Kenapa saat kita mengerti, kita justru mempertanyakan jalan yang sama yang membuat kita mengerti di hari ini?"   Lamunanku itulah yang akhirnya menuntunku menjalin kata menjadi sebuah cerita pendek berjudul "Bertumbuh", yang sebentar lagi bisa kalian peluk dalam buku antologi "Tales of Valeriane" bersama karya penulis lain. *** Bersama seorang herbalis bernama Puspita, aku ingin mengajakmu berjalan menembus kabut malam, mengikuti perginya nyala serbuk sari. Berkat mekarnya bunga sedap malam, Puspita menemukan Aji yang terjebak dalam liang tanah, di kegelapan Hutan Dalam, tempat di mana sisi terdalam manusia tersembunyi. Kisah ini bukanlah sekada...

Elegi Yang Tersirat

  Seekor tupai menuruni batang pohon, membawakan surat balasan untuk Lira, seorang wanita penyair yang tinggal di dalam hutan. Mengenakan gaun putih berbahan sifon yang berlapis-lapis, wanita penyair itu menyirami bunga mawar di pekarangan. Sesekali dirinya menunduk, menyingkirkan helai kain dari wajahnya untuk mencium wangi mawar dan menyentuh lembut kelopaknya. Selembar kain itu menutupi wajah, rambut hingga setengah badannya. Ketika kembali berdiri, Lira membetulkan perhiasan kepala yang menahan sehelai kain itu. Si tupai bernama Nou itu ragu-ragu menghampirinya, sambil mengubah wujudnya di pertengahan jalan. Nou berubah menjadi sosok laki-laki bermata bulat, dedaunan kering tersangkut pada rambut pendek bergelombangnya.  Setelah gulungan surat berstempel kerajaan ia keluarkan dari kantong di balik jubah berbulunya, Nou menyembunyikan gulungan surat itu di belakang punggung tepat saat Lira menoleh. Menghindar dari pandangan Lira kakinya tak terasa juga mundur selangkah. Lir...